Jogja adalah kita yang dikenal dengan keindahan kota dan nilai budayanya. Hal ini adalah beberapa hal yang membuat Jogja menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indonesia. Di setiap peak season, sudah hampir dipastikan bahwa Jogja akan dipenuhi oleh wisatawan baik dari luar negeri ataupun dalam negeri. Bahkan Jogja punya slogan berbunyi “Jogja Berhati Nyaman”.

Namun, apakah Jogja memang senyaman itu? Tidak ada kota yang tanpa masalah, begitupun dengan Jogja. Kota Jogja tercinta ini juga punya masalah yang tidak kecil. Selain masalah kebanjiran yang mulai melanda daerah-daerah tertentu, salah satu masalah paling utama yang ada saat ini adalah masalah klithih. Istilah ini mungkin masih asing di telinga orang-orang luar Jogja. Namun, bagi orang Jogja istilah ini sangatlah familiar. Lalu, apa sih yang dimaksud degan klithih ini?

Dalam bahasa Indonesia, istilah ini bisa disebut dengan “main belakang”.

Jangan pergi sendiri malam-malam!

Yap, klithih berasal dari istilah Jawa untuk menunjukkan kegiatan mencari-cari atau mengais-ngais sesuatu di jalanan. Namun dalam pembahasan klithih di sini memiliki makna sebuah kegiatan di mana seseorang melukai orang lain secara tidak kesatria. Dalam praktiknya, banyak kasus yang ada di Jogja dilakukan pada saat korban mengendarai sepeda motor atau berjalan sendiri di malam hari. Jadi, hampir tidak mungkin dihindari. Saat ada seorang pengendara seorang diri, biasanya pelaku melakukan pembacokan atau penusukan dari belakang dan langsung melarikan diri.

Hal ini tidak satu dua kali terjadi di Jogja, tapi sudah berkali-kali. Korbannya pun bermacam-macam. Ada yang hanya mengalami luka kecil hingga ada juga yang meninggal. Bahkan, belum lama ini ada satu lagi korban meninggal akibat perbuatan tak manusiawi ini. Yang jelas, korban dari kejahatan ini tidaklah sedikit dan sudah sepatutnya semua pihak lebih waspada jika keluar pada malam hari di Jogja.

Lalu, kenapa sih ada orang yang melakukan itu? Apa mereka melakukannya tanpa alasan?

woman walk alone bridge
Sebenarnya apas sih penyebabnya?

Klithih mungkin bisa saja disebut dengan budaya. Kenapa? Ya, karena hal ini sudah berlangsung untuk waktu yang sudah cukup lama. Hal ini tidak hanya berlangsung satu dua tahun belakangan tapi sudah dari puluhan tahun lalu. Hanya saja, sampai sekarang nampaknya belum ada yang tahu alasan sebenarnya dari kejadian ini.

Ada beberapa orang yang menganggap ini adalah salah satu inisiasi untuk masuk ke dalam kelompok gangster besar di Jogja yang menguasai banyak lahan parkir di daerah strategis di Jogja. Ada yang bilang bahwa sejatinya semua klithih selalu didasari oleh dendam yang dipendam oleh si pelaku pada si korban, jadi bisa dibilang ini sangatlah personal. Bisa jadi hanya sekadar gara-gara saling menatap mata kemudian muncul rasa tidak nyaman lalu beraksi. Bahkan banyak pula pelakunya adalah remaja di bawah umur. Namun, ada pula yang bilang bahwa ini adalah murni upaya perampokan. Meskipun sudah ada banyak korban, hingga saat ini jawaban sejati dari peristiwa ini masih saja simpang siur.

Bicara tentang aksi klithih yang marak terjadi ternyata pelakunya dari kalangan pelajar sekolah, Trimurjo (62), pria yang pernah menjadi target penembakan misterius (petrus) yang terjadi pada tahun 1982 silam berpendapat, “Kalian itu masih anak-anak sekolah, masa depan kalian masih panjang. Mau jadi apa kalian dengan perilaku seperti ini (klithih). Dikira jagoan? Bukan! Kalian justru seorang pengecut. Seburuk-buruk pengecut ya kalian itu yang hanya berani menyerang dari belakang. Orang tak tau apa-apa kalian tikam. Dimana letak jagoannya?”, tegasnya. Baca: Aksi Klitih Bukan Jagoan, Tapi Tindakan Pengecut!

Seburuk-buruk pengecut ya kalian itu yang hanya berani menyerang dari belakang.

Sifat buruk masyarakat Jawa mungkin menjadi salah satu hal yang menyebabkan klithih. Siapa tahu!

javanese man blangkon
Kebiasaan menyimpan dendam!

Meskipun sebab musababnya masih belum jelas, salah satu alasan kenapa hal ini bisa terjadi mungkin sangat terkait dengan psikologi sosial orang Jawa. Dalam konteks sosial, orang Jawa adalah orang yang tak banyak bicara, diam dan tersenyum saja. Parahnya, mereka tak hanya diam dan tersenyum pada saat senang atau bahagia, tapi juga pada saat dadanya dibakar api kebencian dan dendam yang luar biasa. Secara sosial, orang jawa memang dididik untuk menyimpan “roso”. Tak hanya rasa cinta, tapi juga rasa benci dan dendam. Bagi orang Jawa, marah-marah di depan umum itu memalukan, nggak priyayi.

Tentu saja ini hanyalah pendapat pribadi dari Casciscus, jadi kebenarannya memang masih perlu dipertanyakan. Yang jelas, kami menganggap bahwa klithih adalah salah satu produk dari kebiasaan orang Jawa yang menyimpan segala sesuatu di dalam. Ada beberapa saat di mana cinta memang harus dinyatakan dan kebencian memang harus diungkapkan.

Mungkin banyak orang di luar Jogja yang masih nggak aware dengan “kebiasaan” ini. Tapi, jika satu dari kamu ingin wisata ke Jogja, kamu harus tahu ini. Ini adalah fakta buruk yang mau nggak mau harus kita terima bersama. Di sisi lain, buat para pelaku, masih ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Jika klithih ini soal inisiasi geng, coba kamu lihat apakah ada atasan di dalam geng itu yang hidupnya tentram! Jadi, ngapain melakukan ini, mendingan lakukan hal lainnya yang lebih banyak manfaatnya misal berkegiatan dalam hobi. Jika ini soal dendam, katain atau olok saja orangnya, ngapain harus menyimpan dendam, capek! Jika ini soal uang, Jogja penuh dengan sumber rezeki, kamu bisa mencarinya dengan mudah kalau kamu mencari.

Yuk mari hilangkan budaya buruk ini. Demi Jogja yang lebih maju dan lebih aman untuk siapapun, biar Jogja tidak hanya nyaman dalam slogan, tapi juga nyaman dalam hati setiap orang baik yang tinggal atau yang hanya datang sekadar singgah.

Komentar