Baru-baru ini sedang viral soal pernyataan tentang Majapahit yang diklaim sebagai kerajaan Islam. Yang menjadi lebih menyinggung lagi adalah nama Gajah Mada yang disebut tidak benar pelafalannya. Yang benar adalah Gaj Ahmada. Ya, beberapa hari ini dunia online memang sedang ramai oleh debat soal Gaj Ahmada ini.

Semua orang memiliki pendapatnya masing-masing. Dan, itu tidaklah salah. Baik yang melakukan kajian sejarah puluhan tahun dan merumuskan nama Gajah Mada atau premature study yang mengubah nama agung itu menjadi ala Persia macam Gaj Ahmada. Dua-duanya berhak memiliki stand point dan dua-duanya berhak mempertahankannya, asalkan ya nggak bodo-bodo banget lah ya. Tapi, di luar semua debat itu tren mengislam-islamkan ini sebenarnya membawa kebaikan atau keburukan sih bagi umat Islam?

Kurang tepat kalau bilang bahwa sejarah ini warisan Belanda. Mereka hanya memperkenalkan metode pengkajian.

gajah mada majapahit indonesia islam kerajaan demak belanda gaj ahmada
Belanda menjajah Indonesia. Sumber: bp.blogspot.com

Salah satu argumen yang digunakan sebagai dasar pengkajian ulang sejarah Majapahit ini adalah argumen kekanak-kanakan yang bilang bahwa semua sejarah itu adalah warisan Belanda. Ini jelas sebuah pernyataan yang emosional dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Kalau memang itu argumennya, sebelum membuktikan bahwa Majapahit itu kerajaan Islam, si penulis harusnya mampu membuktikan dengan gamblang dulu bahwa sejarah Majapahit memang dibelokkan oleh Belanda. Jadi, penelitian yang dijalankan memiliki dasar yang kuat. Nggak lucu seperti sekarang ini.

Dari segi persona, ini malah membenarkan pandangan orang Barat bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekejaman.

gajah mada majapahit indonesia islam kerajaan demak belanda gaj ahmada man weapon
Islam bakalan makin dianggap jahat. Sumber: tatic.independent.co.uk

Jika bicara soal persona Islam yang akhir-akhir ini memang agak kurang baik di Indonesia, pembicaraan soal mengislam-islamkan Majapahit ini justru buruk bagi orang Islam di Indonesia. Ingat, Majapahit digulingkan kerajaan Islam Demak. Raja Demak adalah pangeran dari Majapahit yang kemudian memeluk Islam setelah menikah dengan seorang putri dari Arab. Islam dibiarkan besar oleh Majapahit karena memang Raja Demak saat itu adalah pangeran dari Majapahit. Namun akhirnya Demak menyerang Majapahit dan menggulingkannya. Bayangkan betapa buruknya citra Islam di Indonesia kalau Majapahit dianggap sebagai negara Islam.

Seorang pangeran (Islam) menggulingkan kerajaan asalnya sendiri (yang juga Islam). Bukankah hal ini justru mengafirmasi bahwa Islam memang keras dan kejam? Sama seperti asumsi orang-orang Barat. Sesama Islam saja saling bunuh, gimana kalau beda agama?

Dampak bagi orang Islam justru kurang baik. Apa ini yang diinginkan oleh Muhammadiyah?

gajah mada majapahit indonesia islam kerajaan demak belanda gaj ahmada boys girls kids bridge
Islam justru akan dianggap makin jelek. Sumber: http://blog.act.id

Lembaga yang mendukung riset lucu ini adalah salah satu lembaga penting dari Muhammadiyah. Dari penjelasan di atas, secara politis studi ini justru membuat citra Islam jadi lebih buruk lagi. Apa ini yang diinginkan Muhammadiyah? Mereka adalah organisasi besar yang memiliki peran penting dalam kecerdasan orang Islam di Indonesia. Namun, akhir-akhir ini kok Muhammadiyah justru agak kurang cerdas.

Tidak penting Majapahit itu Islam atau bukan, yang penting adalah bagaimana kita membangun dunia kita saat ini. Dengan kondisi perpecahan umat yang sudah sedemikian luas, apakah dikotomi sejarah juga perlu dimasukkan dalam perseteruan ini? Sudah cukup Ahok dan bukan Ahok, apa perlu ditambahi dengan Gajah Mada dan Gaj Ahmada?

 

Komentar