Salah satu hal yang paling banyak kita lihat di media sosial saat ini adalah kasus Ahok dan permusuhan pemerintah dengan organisasi Islam yang bernama FPI. Jelas, kedua kasus ini saling berkaitan erat, ya terkait dengan pilkada ibu kota. Memang gila kalau dilihat dari ketidakseimbangan pihak yang berseteru dalam hal status, satunya adalah organisasi sedangkan di seberangnya adalah pemerintah. Perseteruan ini telah membelah rakyat Indonesia menjadi dua, orang-orang yang merasa Pancasila harus dijaga dan pihak yang merasa bahwa tak ada ideologi yang lebih bagus dari ideologi Islam.

Tentu saja kericuhan yang ada saat ini adalah murni eskalasi politik. Tidak ada hubungannya dengan agama dan tidak ada hubungannya dengan rakyat kecil. Ini menyangkut mentalitas mayoritas politikus Indonesia yang tumbuh dengan keyakinan politik feodal di mana pejabat adalah pemimpin. Padahal di pemikiran demokrasi, pejabat justru adalah pelayan. Salah satu isu yang paling ramai dibicarakan adalah usaha FPI untuk mencegah rakyat Indonesia masuk neraka berjemaah karena dipimpin oleh orang kafir. Tapi, apakah benar ini HANYA urusan surga nereka? Bukan urusan perut beberapa orang saja? Ataukah keduanya, ini urusan akhirat dan juga urusan perut? Kali ini Casciscus mencoba membahasnya senetral mungkin. Yuk, langsung disimak aja!

Apakah langkah FPI memperkarakan Ahok dan memusuhi lambang-lambang negara salah?

habiib rizieq fpi front pembela islam man
Mesin Politik!

Jika pertanyaan di atas dilontarkan, tentu saja jawabannya tidak salah. Di negara demokrasi ini, tak ada salahnya memperkarakan seseorang atau menjadi oposisi dari pemerintahan. Tidak hanya agama Islam, agama lain pun juga menggunakan ajaran-ajaran agamanya sebagai mesin doktrin politik. Di banyak sejarah, hal ini terbukti berhasil. Jadi salahkah FPI membawa agama dalam pertarungan politik? Tentu saja tidak.

Permasalahannya adalah, banyak umat Islam yang tidak sesekuler itu dalam melihat politik. Banyak orang Islam yang menyangka ini benar-benar urusan surga dan neraka. Mereka benar-benar merasa kalau sampai Ahok jadi gubernur, sudah tak ada maaf lagi bagi umat Islam, kita semua akan masuk neraka. Padahal, tentu saja surga dan neraka tidak ada kaitannya dengan jadi tidaknya Ahok sebagai gubernur Jakarta, itu urusan hati kita masing-masing. Berilah contoh seperti ini, jika saja semua orang di dunia adalah agama A, apakah kita bakalan dilarang untuk jatuh cinta ke agama B? Tentu saja tidak bisa dilarang, ini urusan hati. Jadi, permasalahannya adalah umat Islam di Indonesia yang melihat ini hanya dengan dasar rasa takut terhadap neraka, bukan dengan kesadaran politik. Padahal, Islam adalah agama yang datang untuk mencerdaskan bumi, akan jadi ironi saat mayoritas pemeluknya tidak punya paling tidak sedikit saja pengetahuan tentang politik dan menganggap hiruk pikuk ini sebagai bagian dari dinamika politik di negara yang masih belajar meninggalkan kebiasaan politik feodal ini.

Apakah Ahok adalah pemimpin yang tanpa cela yang pantas memimpin Jakarta?

ahok man sunglasses
Ahok terlalu terburu-buru!

Secara personal tentu saja kami tidak tahu orang seperti apa, tapi jika melihat Ahok sebagai salah satu elemen yang sangat vokal dalam politik Indonesia, mungkin saja saat ini dialah orang yang sudah dikalahkan dalam pemilihan terbuka. Bagaimana tidak, Ahok mengajak rakyat Indonesia berkenalan dengan jenis pemimpin baru. Jenis pemimpin yang tidak ingin dicium tangannya oleh rakyat. Pemimpin yang ngomong blak-blakan dan tidak ‘ceklekan’ kalau dikritik, tidak seperti Pak Harto dulu.

Lalu apakah Ahok adalah sosok yang pas buat Indonesia? lagi-lagi jawabannya kita juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu hati Ahok. Tapi dari segi politik, beberapa langkah Ahok memang bisa dilihat sebagai perwujudan dari pemahaman yang kurang pada rakyat Indonesia. Ahok terlalu terburu-buru menganggap orang Indonesia sudah lepas dari warisan feodalisme yang dirawat dengan baik oleh Pak Harto. Ya, seperti ini jadinya, dia akhirnya membuat kesalahan fatal yang membuat banyak sekali orang Islam di Indonesia merasa agamanya terancam. Logikanya begini, bagaimana caranya mengubah paranoia orang Indonesia terhadap ideologi sekuler yang sudah menancap di lubuk hati selama lebih dari 60 tahun dalam waktu 3 tahun? Nggak mungkin, Hok!

Lalu, antara Ahok dan FPI, siapakah yang memang benar-benar membela rakyat Indonesia?

together people holding hand sunset beach
Semua ada di tangan kita!

Ahok? Jelas bukan. Apa salahnya memperkenalkan politik ‘blak-blakan’ ke dalam konstelasi politik Indonesia yang memang masih sangat feodal ini. Tidak ada yang salah dengan itu. Lalu apakah FPI salah? Tentu saja tidak. Apa salahnya menggunakan agama sebagai mesin politik, bukankah dalam beberapa pandangan agama juga bisa disebut sebagai organisasi? Tidak hanya di Indonesia, bahkan tidak hanya pada zaman ini saja, agama memang sudah dianggap sebagai ‘Mercedes-Benz’-nya para politikus, kendaraan yang nyaman. Lalu siapakah yang akan membela rakyat kalau begitu? Bisa jadi salah satunya, bisa jadi dua-duanya, bisa jadi nggak ada sama sekali.

Kuncinya adalah membuka diri terhadap pemikiran sekuler dan melihat politik tanah air sebagai entitas tunggal. Membebaskan diri dari bias agama, ras, partai, dan melihat Ahok dan FPI sebagai buah dalam bidak catur. Tentu saja itu bukan perkara mudah. Mungkin saja saya sendiri juga tak mampu melakukannya. Tapi, yang jelas jangan terlalu menggantungkan masa depan politik kita kepada Ahok dan di sisi lain jangan menggantungkan ketuhanan kita pada Habib Rizieq dan FPI. Yang akan membela rakyat kecil adalah mereka sendiri. Karena negara ini adalah negara demokrasi. Negara ini bukan milik Ahok atau FPI. Negara ini milikku, milikmu, milik kita semua. Urusan siapakah pemimpin yang tepat bukan urusan orang lain, urusan hati kita masing-masing. Lebih lagi urusan agama, itu kamar tidur utama dalam sebuah rumah, tidak sopan kalau orang masuk-masuk kamar orang!

Ayo bangun dari rasa malas yang disebut feodalisme. Ahok hanya satu orang di pucuk pimpinan administrasi sebuah kota. Dia tak akan bisa mengatur urusan ketuhanan kita. Di sisi lain, urusan surga neraka adalah urusan masing-masing, bukan urusan FPI. Bukan Habib Rizieq yang menentukan kita masuk surga dan neraka. Tak perlulah kita memikirkan mereka berdua seolah-olah mereka itu orang yang lebih penting dari kita!

Komentar