Apa yang terlintas dalam kepala ketika tahu Spiderman—salah satu film superhero yang monumental anak muda—akan kembali menghiasi layar lebar kita? Saya pikir kebanyakan orang menyambut gembira. Apalagi pada kenyataannya, rilis trailer film terbaru Spiderman Homecoming telah keluar secara resmi, dan banyak membuat penggemarnya histeris di media sosial. Momen tersebut seakan meyakinkan khalayak: film fenomenal manusia laba-laba bakal segera mengguncang box office.

Namun sekelompok orang di dunia maya, terutama penggila komik Marvel dan kaum yang kritis terhadap fenomena bleaching (upaya memutihkan tokoh film padahal cerita tersebut diangkat dari tokoh kulit non-putih), mengkritik habis-habisan film yang akan hadir musim panas tahun 2017. Mereka berpikir, cerita Homecoming yang disuguhkan harusnya milik Miles Morales (tokoh di balik sosok Spiderman terbaru Marvel) sebagai tokoh utama, bukan Peter Parker.

Tak percaya? Lihatlah kumpulan tweet ini.

Kenapa begitu banyak orang yang mengkritik demikian tentang film tersebut?

spiderman movie scene train
Homecoming

Untuk informasi, mundur ke tahun 2011, dunia buku komik Marvel terguncang oleh kematian Spiderman. Marvel mengambil langkah berani dengan menceritakan matinya Peter Parker, dan menggantikannya dengan Spiderman baru: Miles Morales, seorang turunan negro-latin. Alih-alih kekecewaan, keputusan tersebut justru diapresiasi kelompok progresif lantaran munculnya Miles sebagai Spiderman menambah keragaman latar belakang superhero.

Namun dengan munculnya trailer Homecoming yang ide latar ceritanya bukan tentang dunia Peter Parker—melainkan dunia Miles Morales—, tapi malah ditokohi oleh Peter Parker, kita semakin dibuat paham: Hollywood mengagungkan kulit putih sebagai ras terbaik.

Contoh gamblang kalau Homecoming menggunakan ide cerita Miles Morales adalah keberadaan sosok sahabat keturunan Tiongkok, Ganke Lee. Padahal sosok asia tersebut merupakan sahabat dari seorang Miles Morales. Dengan begitu, semakin gamblanglah upaya tersirat Hollywood dengan konsep white savior-nya dalam dunia perfilman. Beberapa di antara kita mungkin telah menilainya sebagai sesuatu yang lumrah.

Tak cuma Spiderman: Homecoming, sebelumnya pun telah ada perlawanan atas film yang berkonsep kulit putih sebagai penyelamat (white savior) dan bleaching.

the great wall matt damon kulit putih
The Great Wall

Tak sekali atau dua kali Hollywood membuat konsep white savior. Belum lama ini, misalnya. Sebuah trailer film The Great Wall yang dibintangi Matt Damon pun mendapatkan kecaman. Dalam trailer tersebut digambarkan Damon ikut membantu pasukan kekaisaran Cina untuk membasmi invasi ‘Taotie’—sejenis hewan mitologi yang menyerbu Tembok Besar setiap 60 tahun sekali—. Pengimporan aktor kulit putih itulah yang menjadi jadi permasalahan.

“Kita harus menyetop anggapan rasis bahwa hanya seorang kulit putih yang dapat menyelamatkan dunia! Film itu tak berdasarkan fakta sebenarnya. Pahlawan Cina tidaklah seseorang yang terlihat seperti Matt Damon. Mereka seharusnya terlihat seperti Malala [Yousafzai], Mandela, dan Gandhi: orang-orang yang bersedia berdiri di depanmu untuk menghadapi para penindasmu,” tandas Constance Wu, seorang aktris Hollywood berdarah Cina, kepada USA Today.

Beberapa film yang mungkin pernah kamu tonton seperti 12 Years A Slave, To Kill A Mockingbird, Django Unchained, hingga Java Heat, menggunakan konsep bleaching dan penempatan karakter kulit putih sebagai penyelamat (white savior). Hal yang bisa kau harapkan dari Hollywood: bikin film di daerah manapun, dalam era apapun, dan selalu bisa memilih pemeran utama berkulit putih.

Ada indikasi pengkastaan ras dan kepentingan bisnis.

django unchained movie film white savior
Django Unchained

Tak soal pengkastaan ras, bleaching atau white savior pun punya tujuan bisnis tersendiri. Sebab, konsumen utama film-film Hollywood adalah masyarakat Amerika Serikat itu sendiri. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang kurang bisa menghargai keberadaan pemeran dari ras selain kulit putih. Tak heran kalau hasilnya: ada keengganan dari mereka untuk menonton film yang tokoh utamanya bukan kulit putih. Ujung-ujungnya ke arah bisnis. Film-film Hollywood yang berani menjadikan aktor kulit selain putih justru bisa tak menguntungkan dari segi bisnis.

Bagi orang-orang yang nggak menyadari ini sebelumnya, mungkin, akan masa bodoh dengan permasalahan ini. Yang penting kita disuguhi film bagus dan keren. Mungkin begitulah filosofi yang tertanam dalam setiap benak orang yang cuma penikmat film.

Kita tahu sendiri kalau perbedaan ras itu perbedaan yang horizontal.

Kita itu semua sama dan sejajar soal perbedaan warna kulit.

Padahal di sisi lain, pengaruhnya cukup besar lho soal pengkastaan. Soalnya kita tahu sendiri kalau perbedaan ras itu perbedaan yang horizontal. Kita itu semua sama dan sejajar soal perbedaan warna kulit. Bukan soal atasan dan bawahan.

Namun, lantaran banyak di antara kita yang kurang kritis soal ini, hasilnya, pengaruh film tersebut menempatkan kulit putih sebagai pengisi kasta tertinggi ihwal ras. Kita bisa rasakan sendiri. Salah duanya tentang perasaan minder jika bersanding dan perasaan senang jika berhasil foto bersama dengan bule. Benar, kan?

Komentar