Dunia pariwisata jelas akan selalu dikaitkan dengan tujuan wisata dan keindahannya. Namun, tentu saja dunia wisata tidak hanya soal itu. Ada serba-serbi dan pernak-pernik yang sangat pantas untuk diperbincangkan di balik senyuman puas para wisatawan di tiap tempat pariwisata ternama.

Saat ini, pariwisata sudah jadi bisnis yang cukup besar di Indonesia. Dan, sama dengan bisnis lainnya, selalu ada persaingan yang jarang terlihat dari luar. Ya, pariwisata saat ini sudah menjadi sebuah bisnis dengan persaingan yang cukup keras. Nah, kali ini Casciscus ingin mencoba untuk melihat pariwisata tidak hanya dari segi destinasi dan keindahannya saja, tapi juga soal pernak-pernik di balik persaingan bisnis pariwisata yang ada.

Persaingan antar travel agent yang sangat keras. Banting harga yang akhirnya mengorbankan kenyamanan pelancong.

Persaingan mematikan!

Agen wisata adalah pintu pertama dalam dunia bisnis pariwisata. Mereka adalah tier pertama yang membentuk dan yang akan terkena dampaknya pula jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam dunia bisnis pariwisata. Oleh karena itu, jelas kalau persaingan di area ini sangatlah keras. Para pelaku bisnis ini selalu dituntut untuk mampu memberikan pelayanan terbaik, terbaru, dan yang paling memuaskan.

Oleh karena itu seperti tak jarang, kalau ada travel agent yang membanting harga dengan sangat murah dan melakukan “penipuan” pada para wisatawan. Mulai dari hotel yang tak sesuai dengan yang dijanjikan hingga tak jadi berangkat wisata. Ya, inilah salah satu sisi kelam di balik dunia wisata kita yang sangat gemerlap ini.

Persaingan antar tour guide yang juga keras. Hal ini mengharuskan mereka untuk saling berkelompok.

Satu profesi tapi saling benci!

Tak hanya area travel agent saja persaingan terjadi, tapi juga di ranah yang lebih mikor, yakni ranah pemandu wisata. Banyak catatan yang menyatakan bahwa selalu ada gap yang tak bisa diceritakan oleh para tour guide saat harus berhadapan dengan orang-orang lokal yang juga menawarkan jasa guiding.

Ambil contoh, saat sebuah rombongan datang ke tempat wisata A. Rombongan A pastinya sudah memiliki tour guide sendiri, namun hal ini bisa jadi masalah jika saat sampai di tempat wisata A, tour guide “bawaan” ini tak melibatkan tour giude lokal yang memang setiap harinya sudah ada di lokasi.

Tour guide yang suka berbohong demi memenuhi pundi-pundi uang mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung kalau sekali bohong.

Demi kekayaan semata!

Yang menjadi masalah dengan tour guide lokal adalah pengetahuan mereka yang sangat banyak soal daerah yang kita tuju. Tentu saja tak semua tour guide lokal itu “nakal”, namun sudah ada banyak kasus dimana wisatawan merasa dibohongi terutama dengan harga barang yang direkomendasikan oleh tour guide lokal.

Pasti ada diantara mas-mas dan mbak-mbak berkulit coklat yang menunjukkan jalan kepada orang-orang bule yang kulitnya kemerahan karena panas itu ada yang melakukan praktik ini. Sambil tersenyum, mereka “menggorok” leher orang-orang yang datang dengan penuh senyum itu.

Permainan komisi yang akhirnya membuat para tour guide memiliki bisa penilaian. Tak lagi soal bagus dan indah, tapi soal siapa yang kasih lebih!

Ada komisi!

Mungkin ini sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap tour guide itu punya “langganan”. Iya, saat ada tour guide mengajak satu bus penuh wisatawan masuk ke toko oleh-oleh tertentu, hal ini seringnya bukannya tanpa sengaja atau didasari karena nilai si tempat oleh-oleh yang memang tinggi, tapi karena “komisi” yang diberikan oleh si toko kepada si tour guide dan supir busnya.

Tentu saja hal ini dianggap wajar oleh para pelaku bisnis wisata, namun hal ini yang akhirnya membuat bias penilaian. Tempat-tempat yang mampu membayar tour guide akan selalu didatangi wisatawan meskipun kualitas produk mereka buruk. Namun di sisi lain, akan ada bisnis yang mati bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena nggak mampu membayar tour guide. Jika dilihat secara besar, persaingan tak sehat ini akan sangat menghambat pertumbuhan pariwisata.

Bukannya ingin menunjukkan keburukan para pekerja wisata, tapi hanya ingin memberitahukan pada para pembaca, bahwa di balik senyum kalian, ada banyak hal yang terjadi. Ada keringat para pegawai travel agent, peluh para tour guide, dan persaingan para pedagang oleh-oleh. Selalu ada hal baik dan hal buruk yang terjadi di balik sebuah perjalanan wisata. Dan, kalian harus mengetahuinya.

Komentar