3 Ironi Terbesar yang Dilakukan Para Netizen Saat Ini. Penistaan Pada Kebebasan dan Kecerdasan!

    3 ironi ini harusnya bisa dilihat semua orang, tapi sayangnya tidak!

    0
    448
    Dasar bangsa pemarah!

    Saat ini, entah kenapa anak muda Indonesia menjadi golongan yang rajin memaki. Tidak hanya anak muda sih, golongan yang agak tua juga sering memaki. Semua orang merasa pemerintah adalah sebuah mesin konspirasi besar yang kerja sehari-harinya adalah untuk ‘ngakali’ rakyatnya. Bahkan kadang mereka sering lupa bahwa saudara-saudara mereka, teman-teman mereka adalah bagian dari pemerintahan. Ini sih juga termasuk penistaan.

    Kali ini Casciscus ingin sedikit mempertanyakan ironi perilaku orang-orang zaman sekarang. Bukannya kami merasa kami yang paling benar, hanya saja, bagi kami banyak sekali ironi konyol yang butuh penjelasan. Apa saja ironi perilaku konyol netizen yang rajin memaki itu? Yuk, langsung disimak aja!

    Satu-satunya bahasa Indonesia yang masuk kamus bahasa Inggris adalah kata amuck ‘amuk’.

    teriak netizen ngamuk amuk marah maki penistaan
    Marah dulu mikir belakangan!

    Ironi terbesar dari perilaku netizen saat ini kata amuck. Dahulu, organisasi kolonial seperti Inggris, Belanda, Portugal, dan lainnya untuk mengolok olok bangsa Melayu, terutama Indonesia, akan keterbelakangan mentalnya. Mereka menganggap bahwa orang-orang di daerah Melayu adalah orang-orang yang pemarah, ‘ceklekan’, gampang marah.

    Nenek moyang kita bersikeras membuktikan bahwa apa yang mereka tuduhkan itu salah. Tapi, sedihnya adalah orang zaman sekarang seperti membenarkan olokkan para penjajah itu. Iya, kita jadi bangsa yang pemarah. Ngamuk dulu, pakai otak belakangan!

    Untuk ukuran bangsa yang memiliki struktur pendidikan, banyak warganya yang seperti tidak punya pendidikan. Malah sering melakukan penistaan.

    menulis writing book pencil hand
    Bangsa teridik yang tidak bisa membaca!

    Ada waktu di mana di daerah Asia Tenggara, Indonesia dianggap sebagai bangsa paling terdidik. Malaysia mengimpor guru dari Indonesia. Negara-negara sekitar juga sangat segan dengan kita. Sekarang, banyak sekali yang complain karena bangsa kita secara prestasi kalah dengan negara-negara tetangga. Tapi, ironisnya adalah bahwa kemunduran itu karena perilaku kita sendiri yang seperti orang tak terdidik.

    Lihat saja, betapa pemarahnya orang-orang saat di jalan. Lihat saja di internet, netizen komentar tanpa membaca, emangnya pada nggak bisa baca apa? Emangnya sesusah apa sih meluangkan waktu barang 5 menit buat baca. Kita negara yang dulu adalah pusat pendidikan Asia Tenggara, kini mayoritas rakyatnya tak bisa membaca.

    Hobi memaki tapi suka Suharto. Suka ngomong tapi suka pemimpin yang membungkam. Sulit!

    soeharto shooter gun sniper
    Orang yang bikin bangsa kita mundur!

    Satu lagi ironi besar yang bisa ditemukan di dunia maya saat ini. Banyak sekali orang yang memaki-maki pemerintah dan menyerukan ingin kembali ke zaman Suharto. Gila, kurang ironis apalagi pernyataan itu. Bagaimana mungkin orang yang begitu keras memaki-maki malah justru menginginkan pemimpin yang hobi membungkam.

    Yang tidak diketahui banyak orang atau netizen adalah bahwa Suharto-lah yang harusnya dituntut karena kemunduran bangsa ini. Sejak memerintah tahun 65, semua idiologi di tekan. Rakyat tak perlu pintar, kalaupun ada yang pintar dan lantang pasti segera dibunuh. Sejak dari generasi sebelum kita, rakyat tidak pernah diberi modal pendidikan yang cukup untuk urusan agama, sosial, lebih lagi urusan politik. Kita sudah dibodohkan secara struktural yang efeknya bisa sampai ratusan tahun mendatang. Alangkah lancangnya orang yang ngaku waras di zaman sekarang kalau sampai bilang, “Enak zaman Pak Suharto”. Itu penistaan yang sesungguhnya. Penistaan pada kebebasan dan kecerdasan, penistaan kepada hidup itu sendiri.

     

    Komentar