Pada tahun 1998, Indonesia mengalami reformasi politik besar-besaran yang ditandai dengan runtuhnya rejim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Meskipun ini adalah berita bagus buat masyarakat Indonesia, namun kita tak bisa memungkiri bahwa perubahan besar ini juga memakan korban yang tidak sedikit. Mahasiswa berkorban nyawa, dan bahkan orang etnis Tionghoa banyak yang kehilangan nyawanya.

Namun jika dilihat dari segi politik, sebenarnya kelamnya kejadian mei 1998 adalah pintu masuk pada perubahan pola pikir, hegemoni, dan paradigma berpikir orang Indonesia. Sayangnya, sampai saat ini, the vacuum of power yang ditinggalkan oleh Suharto nyatanya tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para tokoh reformasi untuk mengubah alur bangsa ini.

1. Kesempatan untuk melakukan pendidikan politik pada rakyat Indonesia yang dibutakan oleh Suharto.

partai orde baru suharto indonesia presiden
Buta Politik!. Sumber: http://www.berdikarionline.com

Satu hal yang sangat penting, kalau bukan yang paling penting, yang dilewatkan oleh para stake holder reformasi Indonesia adalah soal pendidikan politik. Hal pertama yang wajib dilakukan setelah runtuhnya Suharto adalah mencerdaskan rakyat yang telah lama dibutakan oleh Suharto. Terutama soal politik. Sebenarnya, 1998 adalah waktu yang sangat pas untuk memulai pendidikan ini.

Sayangnya hal itu tidak ditata dengan benar dan akhirnya saat ini, di tahun 2017, rakyat Indonesia belum benar-benar lepas dari kebutaan itu. Tidak hanya orang-orang di desa, bahkan orang-orang yang hidup di kota dan memiliki ijazah tinggi pun kadang tidak bisa melihat pertanda-pertanda politik yang sangat jelas. Contoh paling sederhana, bagaimana mungkin orang anggota DPR yang korup dan nggak kerja bisa terpilih lagi? Itu kan aneh.

2. Pembekalan pemahaman diri dan sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik.

people smile gathering
Harus lebih memahami diri sendiri. Sumber: http://www.hellosehat.com/

Sedikit berbicara soal teori sosial dan kaitannya dengan politik, Antonio Gramsci menyatakan bahwa hegemoni yang sesungguhnya bukanlah pendudukan penjajah, namun saat penjajah bisa membuat kita merasa merdeka. Itulah yang terjadi dalam era Suharto. Pak Harto benar-benar memanfaatkan kekuasaannya untuk “meninabobokkan” rakyat Indonesia sehingga mereka tak sadar bahwa hak-haknya sedang dikebiri.

Oleh karena itu, reformasi seharusnya menjadi waktu yang sangat tepat untuk memberikan kesadaran diri soal hegemoni pada rakyat Indonesia. Sayangnya itu tidak dilakukan. Dan, akhirnya sekarang, masih banyak orang-orang yang keliru dan menganggap rejim Suharto adalah rejim yang baik.

3. Melunturkan ajaran-ajaran feodal yang masih kental diajarkan oleh rejim Suharto.

Kita semua sama!. Sumber: http://www.pojoksatu.id

1998 semuanya melebur menjadi satu. Tak ada perbedaan etnis, agama, kedudukan, dan dikotomi konyol lainnya. Tentu saja momen itu adalah momen yang sangat pas untuk membuka banyak orang Indonesia soal kejahatan dan kebodohan feodalisme di Indonesia. Namun sayangnya hal itu tidak pernah dilakukan.

Sampai sekarang, banyak orang masih saja munduk-munduk pada pejabat yang dibayar pakai uang negara. Bukankah kita yang membayar mereka. Kenapa kita yang harus tunduk? Pemikiran ini biasa disebut dengan logical fallacy yang seringkali digaungkan oleh Marx. Pemikiran feodal adalah pemikiran terbalik di mana yang punya hak justru di injak-injak oleh orang-orang yang tak bisa menjalankan tanggung jawabnya.

4. Memotong generasi korup yang diwariskan oleh rejim orde baru.

Generasi koruptor! Sumber: http://cdn.metrotvnews.com

Tak bisa dimungkiri bahwa bahwa 1998 adalah titik awal generasi korupsi. Kebiasaan korup yang sudah ada dari era Suharto seperti lebih mendapatkan angin karena sudah tidak ada lagi si Smilling General yang akan langsung mengacungkan senapan pada anak buahnya yang korupsi. Karena cuma dia yang berhak korupsi. Saat Suharto tersungkur, semua orang jadi berani korupsi.

Seharusnya ini sudah dipikirkan oleh para penggerak reformasi. Bahwa kebiasaan ini akan menjadi semacam debu knalpot dari sebuah mobil mewah. Iya, reformasi adalah sebuah mobil mewah dan korupsi adalah bagian knalpot yang hitam dan panas. Tapi, mobil mewah ini tak akan jalan tanpa knalpot. Kuncinya adalah bagaimana membuat knalpot ini tetap terpencil, terasing di bagian bawah mobil, dan bukan malah menjadi wajah baru dari si mobil mewah tersebut.

Komentar