“Sebentar, gambar alis dulu.”

Iklan memang jahat. Begitulah kata sifat yang tepat untuk mengdeskripsikan upaya mereka mengkontruksi standar cantik perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia sejatinya memiliki warna kulit beragam, mulai dari hitam, coklat, sawo matang, hingga kuning langsat. Namun karena terpaan iklan, entah itu di koran, radio ataupun TV, kita dituntut sepakat: yang cantik itu perempuan putih.

Tengok saja para ambassador iklan-iklan kosmetik atau sabun kecantikan. Rasanya sulit menemukan yang benar-benar asli keturunan Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah turunan kulit putih. Akibat hal tersebut, muncul perasaan minder ketika seorang perempuan Indonesia memiliki kulit tak putih. Di sisi lain, laki-laki pun terkena terpaan iklan. Mereka pun punya mindset: cantik itu, ya, perempuan berkulit putih.

Makin ke sini, konstruksi standar cantik kemudian bukan hanya berhenti di warna kulit, tapi juga bentuk alis. Oh ya, sebelum alis dianggap sebagai sesuatu yang penting, bibir sudah ambil bagian terlebih dahulu di masyarakat. Berbagai merek lipstick dan gincu sempat jadi obrolan di mana-mana, termasuk dunia maya. Bahkan tak sedikit laki-laki terkena ujian, karena harus bisa membedakan mana yang lebih bagus untuk bibir perempuannya. Yang tak kalah menggemaskan adalah ketika ditanya warna spesifik lipstick. Konon, setiap warna punya nama masing-masing. Padahal menurut cowok warnanya sama saja.

Alis sebagai visibilitas dalam budaya populer.

alis
Lily Collins (sumber: umad.com)

Fokus lagi ke bahasan soal alis, tren perempuan yang berlomba-lomba menggambar alisnya melaju beriringan dengan tren pewarna bibir. Hanya saja, tren alis memang lebih baru. Bagian yang satu ini memiliki visibilitas baru yang sesuai dalam budaya populer. Jadi, bukan hanya memoles bibir yang jadi kebiasaan banyak perempuan Indonesia sebelum berangkat kuliah atau kerja, akan tetapi menggambar alis juga. Masalah ini pula lah yang membuat seorang laki-laki mesti rela menunggu lebih lama dari biasanya saat hendak pergi berkencan.

Hadirnya tren menggambar alis pada masyarakat dunia ditengarai akibat keviralan yang mudah terjadi di internet, dan hal itu karena unggahan seorang remaja Amerikas Serikat, Peaches Monroee. Pada tahun 2014, Monroee, mengunggah sebuah video di media sosial Vine dan memperkenalkan frasa “brow on fleek” atau alis yang halus, bagus dan manis.

Setelah unggahan tersebut viral, ada lebih dari tiga juta unggahan Instagram dengan tagar brows, dan lebih dari 600.000 dengan tagar browsonfleek. Netizen Youtube tak mau kalah. Ada lebih dari 500.000 tutorial di jejaring sosial video tersebut. Banyak orang mencari bagaimana cara membentuknya menjadi halus, bagus dan manis. Sampai saat ini, seorang seniman make-up, Zukreat, telah jadi yang favorit. Video tutorial tersebut sudah dilihat sampai 3,7 juta penonton. Kalau dilihat sih, kira-kira butuh satu jam lebih untuk membuatnya jadi lebih sempurna versi beauty vlogger tersebut.

Hal yang jadi mahkota bagi seorang perempuan bukan lagi rambut, melainkan alis. Perempuan plontos tapi tak beralis masih bisa terlihat oke ketimbang perempuan berambut tapi tak beralis. Sebagai orang yang memiliki fetis pada alis, bohong jika penulis berlaku obyektif pada pernyataan tersebut.

Banyak yang lebih yakin untuk tampil di depan umum hanya dengan mengenakan alis daripada aplikasi eyeliner (semoga tak salah tulis) atau make-up lainnya. Ada semacam pengkontruksian yang mengarah pada: gambar alis yang cenderung lebih tebal, penuh dan rapi lebih mampu mempertegas tampilan sekaligus membentuk karakter wajah seorang perempuan.

Selain itu, para ahli dari MIT juga meyakini bahwa ada alasan lain mengapa wanita saat ini menjadikan bentuk alis yang tebal dan penuh sebagai standar kecantikan masa kini. Menurut Javid Sadr, salah satu anggota tim peneliti, bentuk yang tebal di masa kini sama saja dengan tren bahu yang membentuk dengan tegas pada era 1990-an.

“Ada pergerakan besar di mana semakin banyak wanita di tempat kerja dan semakin banyak wanita yang menembus norma-norma (kecantikan) yang dianggap normal. Di masa lalu, busana dengan pengganjal bahu yang besar akan menampilkan kesan dan sosok yang sedikit lebih maskulin. Tren ini memberikan pernyataan tentang pemberdayaan wanita,” jelas Sadr.

Tanpa alis, kamu takkan bisa langsung dikenali. Ini bukti alis adalah bagian penting identitas wajah setiap manusia.

Gambarnya yang konsisten. (sumber: https://i.ytimg.com/vi/a-LH15_mvPE/maxresdefault.jpg)

Selain fungsi alamiahnya menyaring keringat sehingga tak langsung menetes ke mata dan juga pembantu menguatan ekspresi, alis punya kekuatan sebagai pengenal sosial. Menurut Javid Sadr, alis adalah bagian penting dari identifikasi wajah.

Para peneliti dari University of Leithbridge Kanada memperkuat asumsi: keberadaan alis sangatlah penting sebagai identitas diri. Dikutip dari laporan CNN, para peneliti menggunakan metode foto visual untuk menjawab hipotesis bahwa bagian tersebut penting bagi penampilan perempuan.

Sebanyak 25 foto menampilkan gambar close-up tanpa mata dan 25 foto lainnya tanpa alis. Lalu, untuk membuktikan hipotesisnya, para responden diminta mengenali wajah yang terdapat pada foto tersebut. Hasilnya memang tipis, tapi itu sangat berarti. Sebanyak 56 persen responden mampu mengidentifikasi wajah tanpa mata. Sisanya, cuma 46 persen responden mampu mengenali wajah tanpa alis.

Dari penemuan tersebut kita bisa belajar, bulu di antara mata dan jidat tersebut memang sangat penting untuk identitas seseorang. Orang masih sangat mungkin mengenali kamu dengan mudah hanya dipindai dari alisnya. Akan tetapi, cobalah cukur alismu. Kemungkinan orang mengatakan mereka tak mengenali kamu pada pandangan pertama pasti lebih besar.

“Tapi ‘kan kita juga menggambar ulang setelah mencukurnya?”

Pernyataan itu sangat mungkin terlontar sebagai pembelaan. Jawabannya: iya, tapi orang takkan langsung mengenali langsung itu kamu. Kalau tak percara, coba kamu Googling foto-foto Charlie Chaplin, lalu bandingkan dandanannya ketika memerankan tokoh Tramp dengan dia yang benar-benar menjadi sosok Charlie Chaplin tanpa make-up.

Pun kamu menggambar, memang bisa, ya, menggambar dengan konsisten dengan ketebalan dan posisinya yang presisi setiap harinya?

Komentar