Pagi-pagi, sekitar pukul 6 aku bangun dan memaksakan diri untuk segera mandi. Ya, mungkin sudah menjadi aktivitas yang wajar untuk banyak orang, dimana bangun subuh dan mandi pukul 5 pagi menjadi sebuah keharusan. Tapi, tidak bagiku, hal itu merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi. Once in a blue moon kalau kata orang kompeni. Dan, aku yang seringnya “nglowo” ini harus bangun pagi bukan demi Gusti (tenang aku nggak semulia itu seperti tokoh-tokoh sinetron religi), tapi demi satu hal yang membuat Jogja lebih ramai daripada peak season wisata, yakni saat wisuda. Iya, wisuda! Bayangkan saja, di Jogja ini ada lebih dari 50 kampus dan biasanya wisuda dilakukan di kisaran waktu yang sama. Apa jadi nggak mampet tuh jalanan Jogja?

Namun, ya, itulah Jogja, bukan hanya kota wisata atau sekadar dijuluki kota pelajar, tapi kota ini memang menjadi saksi pencapaian studi bagi banyak orang. Meski mungkin wisuda terdengar biasa saja bagi banyak orang yang sudah mengalaminya. Tapi bagiku, wisuda ini pencapaian tersendiri, aku mungkin akan jadi Tong Sam Chong (lebay sih ini).

Wisuda jadi sebuah event pertunjukan yang ditujukan untuk orangtua; bahwa mereka tidaklah gagal.

wisuda mahasiswa jogja kuliah
Bikin orang tua plong!

Saat pertama kali melepas anak-anaknya pergi sekolah ke luar kota, orangtua pasti merasa sangat khawatir. Bukan masalah apakah anaknya kangen atau tidak dengan ayah-ibunya, tapi apakah anaknya kelak nggak akan jadi bencoleng (bosnya perampok) saat sekolah sendiri ke luar kota. Mereka berdoa siang dan malam agar anak cowoknya nggak jadi pecandu narkoba dan anak ceweknya nggak hamil di luar nikah.

Nah, wisuda adalah terminal untuk transit bagi para orangtua. Meski tentu saja, orangtua tidak akan berhenti khawatir pada anak-anaknya, tapi saat melihat anaknya wisuda, paling tidak para orangtua itu bisa sedikit beristirahat untuk mengkhawatirkan anak-anaknya. Paling tidak, itulah yang aku lihat dari raut muka kedua orangtuaku. Mereka begitu lega, santai, plong, woles, leren saat lihat anaknya yang tergolong nggak sukses ini diwisuda. Maturnuwun, Gusti!

Bisa buat alasan bancakan. Untuk sesaat bisa melupakan apakah masa depan itu cerah atau gelap.

wisuda mahasiswa jogja kuliah prasmanan bancakan makan bersama pesta
Alasan buat bancakan!

Lalu, apalagi sih yang membuat wisuda itu meskipun merepotkan tapi tetap harus dilakukan? Ya, alasan buat makan-makan. Alasan buat bancakan kalau kata orang Jawa. Selama masa kuliah, apa sih hal penting yang kita syukuri selain menang taruhan dan ulang tahun gebetan? Nggak ada! Nah, ini salah satu kejadian yang sangat pantas disyukuri. Terutama bagi para anggota faksi telat lulus seperti aku ini.

Wisuda, terutama bagian makan-makannya adalah perayaan terakhir sebelum kita masuk ke dalam kehidupan cari duit yang kejamnya melebihi ibu tiri. Apa? Ibu Kota? Kejamnya Ibu Kota nggak ada sekelumit dibandingkan kejamnya kehidupan kerja. Jadi, pestalah! Entah prasmanan atau kardusan, mau di angkringan atau di restoran, itu nggak penting. Yang penting pesta!

Wisuda adalah soal pelantikan kedewasaan. Bukan sunat atau mimpi basah, tapi wisuda!

wisuda mahasiswa jogja kuliah
Jadi pelantikan kedewasaan!

Katanya kalau sudah mimpi basah atau sudah sunat kamu sudah resmi jadi orang dewasa. Keliru, Bos! Kedewasaan nggak ada hubungannya sama sunat dan mimpi basah. Kalau kamu mimpi basah saat SD kelas 4 apa iya kamu bisa dianggap dewasa? Yang ada kamu dianggap piktor, atau pikiran koruptor. Eh, salah, pikiran kotor. Pelantikan kedewasaanmu adalah wisuda.

Ada orang yang menjadikan wisuda sebagai alasan buat nikah. Ada juga yang menjadikannya alasan buat merantau lebih jauh, mencoba hal baru. Pokoknya hal-hal yang menyangkut urusan dewasa, urusan wong gede biasanya ditandai oleh wisuda. Karena wisuda itu tandanya bukan hanya kamu lulus sekolah, tapi kamu juga selamat dari pengalamanmu semasa sekolah. Nggak semua anak memiliki pengalaman naik mobil impor ke kampus, atau setiap hari meluangkan waktu buat beribadah. Ada anak-anak yang nasi telur saja utang, atau anak-anak yang hari-harinya hanya dipenuhi dengan pikiran soal gimana caranya ajak cewek “ngamar”. Nah, wisuda itu tandanya kamu selamat dari seluruh pengalaman yang pahit dan yang buruk. Nggak ada pengalaman baiknya ya? Ya, itu deritamu sih. Kalau aku, aku jelas punya pengalaman baik. 😀

Lantas, di mana sih lokasi Jogja antara filosofi-filosofi warung kopi yang sudah ditulis di atas? Posisinya, ya, di sini, di sebelahku dan di sebelahmu. Jogja adalah saksi dari mulai aku mikir caranya buat kenalan sama teman kampus, sampai aku mampu bikin orangtuaku merasa lega karena anaknya sudah wisuda. Begitulah Jogja, paling tidak bagiku, mewarnai kehidupan anak kuliah.

Kota ini menyediakan segala hal yang dibutuhkan oleh anak kuliah. Dari yang baik sampai yang buruk. Dari yang alim hingga yang begundal. Dari Toko Merah yang jual alat tulis hingga Lampu Hijau yang menyediakan layanan esek-esek kelas kantong mahasiswa yang uang ekstranya adalah dari hasil penggelapan uang kuliah atau bohongi bapak ibunya.

Komentar