Bagi banyak orang yang menyaksikan tergulingnya pemerintahan otoriter Suharto, bisa jadi Mei menjadi bulan yang begitu istimewa. Pasalnya, secara serentak di seluruh Indonesia, ratusan ribu atau bahkan jutaan mahasiswa seolah rela mengadu nyawa untuk menyuarakan demokrasi. Ya, demokrasi yang sesungguhnya, bukan demokrasi bisu seperti yang dikultuskan oleh pemerintahan Suharto waktu itu.

Ada ribuan kisah heroik di seluruh negeri pada hari itu. 8 Mei pun turut jadi saksi pergolakan pemerintahan tangan besi yang dianggap tak bisa digulingkan itu. Dan, salah satu pergolakan besar yang jarang sekali diberitakan oleh media mainstream adalah pergolakan yang terjadi di Yogyakarta. Peristiwa ini yang disebut dengan Gejayan Kelabu. Dikutip dari Jogja Uncover, peristiwa ini adalah kisah yang tak familiar di telinga mayoritas “anak sekarang”. Di mana pada peristiwa itu, para mahasiswa tanpa memedulikan ras, suku, agama, almamater, saling bahu membahu menyuarakan impian rakyat Indonesia, demokrasi sesungguhnya.

Pagi indah yang penuh semangat reformasi berubah menjadi mencekam di Gejayan.

gejayan kelabu aparat demonstrasi mahasiswa mei jogja
Aparat yang menjaga keamanan saat terjadi demonstrasi.
gejayan kelabu demonstrasi mahasiswa mei 1998 jogja
Sri Sultan Hamengkubuwono X bicara di atas mobil saat terjadi demonstrasi di daerah Wirobrajan.

Mahasiswa memulai demonstrasi besar-besaran sejak pagi. Mereka memulainya di beberapa titik penting di Yogyakarta, dengan berjalan sambil mengarak yel-yel yang sudah bertahun-tahun ada di dalam kepala mereka. Ya, isi kepala yang tak bisa keluar karena tangan besi Suharto. Dan, pada siang hari mahasiswa saling bertemu di daerah sekitar pertigaan Gejayan tepatnya dekat Jogjakarta Plaza Hotel, mereka berorasi di sana. Semuanya berjalan tenang-tenang saja hingga pada pukul 5 sore aparat berusaha untuk membubarkan paksa para mahasiswa yang masih semangat menyuarakan isi kepala mereka.

demonstrasi mahasiswa mei sidang umum mpr 1998 jogja gejayan kelabu
Demonstrasi mahasiswa menolak hasil Sidang Umum MPR 1998.

Demonstrasi yang relatif damai itu lantas berubah menjadi bentrok berdarah ketika aparat mulai melakukan pemaksaan untuk membubarkan. Mahasiswa yang bersikukuh tidak mau bubar mendapat ganjaran berupa pukulan dan dikejar bak maling hingga memasuki kampus dan kampung-kampung di sekitaran Gejayan. Orasi para pemuda yang menuntut keadilan ini akhirnya berubah menjadi bentrok berdarah yang begitu mencekam. Salah satu yang paling menakutkan di sejarah kemahasiswaan kota pelajar ini.

Tak hanya mahasiswa, para mahasiswi pun akhirnya ikut berjuang karena melihat teman-teman sejawatnya dikejar seperti maling.

gejayan kelabu demonstrasi mahasiswa mei 1998 jogja
Pagar hidup mahasiswa.

Pada pukul 8 malam, para mahasiswi pun akhirnya ikut turun ke jalan demi menyelamatkan para mahasiswa yang dikejar seperti maling, ditendang, dan dipukuli. Di depan sebuah asrama, para mahasiswi pemberani ini membuat pagar hidup untuk menghadang aparat yang merangsek masuk ke kampus dan kampung untuk mengejar para mahasiswa dan aktivis.

Cara ini berhasil. Aparat berhenti di area Gejayan dan tak masuk ke kampung-kampung. Malam itu, kos putri dan asrama putri riuh ramai menjadi tempat persembunyian para mahasiswa dan aktivis yang dikejar aparat. Hingga pada 9 Mei pukul 2 dini hari, bunyi tembakan tak henti-hentinya terdengar. Gejayan yang merupakan daerah kampus ini menjadi seperti medan perang yang mencekam.

gejayan kelabu demonstrasi mahasiswa mei 1998 jogja
Jalan Gejayan yang sekarang dikenal sebagai jalan Affandi usai peristiwa Gejayan Kelabu.
gejayan kelabu demonstrasi mahasiswa mei 1998 jogja
Kerusakan fasilitas umum usai bentrokan mahasiswa dengan aparat.

Paginya, para mahasiswa ini pun bahu membahu mengembalikan motor para mahasiswi yang masih tertinggal di kampus karena kisruh tadi malam. Hebatnya, motor yang dibawa oleh para mahasiswa untuk dikembalikan ke pemiliknya semuanya benar-benar pulang ke tangan pemiliknya. Meskipun kondisi waktu itu sangat memungkinkan jika satu atau dua mahasiswa membawa lari motor yang kuncinya memang mereka bawa, nyatanya tak ada laporan motor hilang waktu itu.

Satu yang tak boleh dilupakan adalah nyawa dari seorang pemuda yang ditemukan tewas pada 8 Mei pukul 21.30.

gejayan kelabu demonstrasi mahasiswa mei 1998 jogja
Bentrokan mahasiswa dengan aparat.

Selain kehebatan dari kerjasama dan solidaritas para mahasiswa dan mahasiswi dari Sanata Dharma, UNY, UGM, UIN, dan Atma Jaya yang memang berhadapan langsung dengan ganasnya aparat waktu itu, adik-adik mahasiwa yang hidup di Jogja saat ini harus tahu juga tentang satu korban jiwa yang tewas akibat pukulan benda tumpul pada malam bentrok, 8 Mei 1998. Dia adalah Moses Gatutkaca—seorang pemuda Jogja dan menurut salah satu sumber juga seorang relawan SAR—ditemukan tergeletak di pinggir jalan pada pukul 21.30 malam.

Untuk mengenang pengorbanan pemuda ini, namanya pun lantas dijadikan nama jalan persis di sebelah kampus Sanata Dharma. Ya, rasanya ada banyak orang, bahkan mungkin orang yang sudah lama hidup di Jogja sekalipun, tidak tahu jika daerah Moses yang kini penuh dengan toko handphone dan warung makan Tio Ciu ini dinamai berdasarkan pemuda yang tewas pada malam mencekam 19 tahun lalu. Iya, pada kisah yang lantas disebut-sebut sebagai Gejayan Kelabu.

Sumber foto

Komentar