Akhir-akhir ini pastinya semua sedang ramai membicarakan Habib Rizieq Syihab. Ya, memang, ketua FPI yang mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai Imam besar umat Islam di Indonesia memang sedang terpojok. Dikejar polisi seperti seorang penjahat dan bahkan sudah resmi masuk ke dalam DPO.

Tapi, apa sih salah Habieb Rizieq dan kenapa pemerintah seolah begitu membencinya? Orang Indonesia sih biasanya tidak peduli dengan kebenaran atau kesalahan. Jadi kali ini apa salah si Imam besar umat Islam ini tak usahlah dibahas. Orang yang benci Habib akan tetap benci, dan yang cinta akan tetap cinta sebagaimanapun terbukti kebenarannya. Tapi, kenapa bisa hubungan Rizieq dan pemerintah bisa “sepanas” ini?

Ternyata sifat keras Rizieq malah justru disukai oleh orang Indonesia yang memang penuh rasa benci, rasa kerdil, rasa takut.

habib riqieq fpi jokowi wiranto politik islam suharto pemerintah rakyat indonesia
Dicintai karena keras. Sumber: cdn.asiancorrespondent.com

Dulu, di era Pak Harto, tidak ada ulama yang galak seperti Habib Rizieq ini. Kenapa? ya kalau galak sudah “dimakan mentah” sama si The Smiling General lah. Bapak-bapak yang hobinya senyum itu sangat mampu membuat orang terkencing-kencing, lho. Mungkin ini ya, mungkin rakyat Indonesia yang sudah dibungkam selama 32 tahun ini rindu tokoh yang mampu menjadi oposisi pemerintah. Euphoria berbicara bebas memang belum selesai. Mulai dari 1998 sampai sekarang, orang-orang yang sedang hobi-hobinya menjadi antitesa pemerintah butuh tokoh yang menjadi pengeras suara mereka. Dan, ternyata si Rizieq ini mampu melakukan ini, menjadi megaphones.

Hingga detik ini, hal paling menarik yang “dijual” oleh Rizieq bukanlah surga, tapi perlawanan. Ya, orang Indonesia yang telah kehilangan musuhnya pastinya rindu dengan lawan tanding yang setara dengan Pak Harto. Orang-orang yang dipenuhi kebencian, rasa kerdil, dan rasa takut sebagai hadiah dari rejim ORBA masih membutuhkan panggung untuk menunjukkan perlawanan. Tentu saja orang-orang yang jadi “anak buah” Rizieq ini mungkin belum lahir pada masa ORBA. Tapi, jika mengacu pada sejarah, cinta memang tak bisa diwariskan tapi kebencian bisa. Tidak ada orang mengingat bagaimana Umar Bin Khatab si Jendral Besar agama Islam menaklukkan Al-Quds tanpa pedang, tanpa korban jiwa. Yang orang ingat adalah betapa rajinnya Umar Bin Khatab saat berperang dengan orang yang dianggap kafir. Kebaikan masa lalu ORBA akan susah diingat, tapi kebencian para pejuang dulu pada ORBA yang membungkam mulut-mulut orang Indonesia mungkin akan diingat 7 turunan. Dan sekali lagi, mereka butuh panggung dan MC. Di situlah posisi FPI dan Rizieq, panggung dan MC.

Orang Indonesia dibuat supaya percaya bahwa orang Islam sedang dalam kondisi berperang.

habib riqieq fpi jokowi wiranto politik islam suharto pemerintah rakyat indonesia
Dipikir lagi perang! Sumber: 3.bp.blogspot.com

Hebatnya Habib Rizieq adalah dia mampu membuat orang Indonesia yang 87% muslim ini merasa harus mempertahankan agamanya. Saat dulu Suharto membuat orang percaya bahwa kondisi keamanan sangat stabil, Rizieq sebaliknya. Dia membuat orang Islam Indonesia percaya bahwa sekarang ini Islam sedang dalam kondisi perang dan jalan satu-satunya untuk selamat adalah melawan. Dengan modal rasa benci, rasa takut, dan rasa kerdil yang sudah diwariskan oleh ORBA, tidak sulit untuk memantik emosi orang Islam Indonesia.

Aksi-aksi yang digelar oleh Rizieq menunjukkan adalah untuk membuat percaya bahwa pemerintah sedang melakukan opresi pada Islam. Padahal dimana opresinya? Opresi pada Islam itu jelas terlihat di Amerika. Di sana, orang yang bahkan hanya memiliki nama bernada Islami saja harus kena random check di bandara-bandara. Hukum yang ada di Indonesia saat ini sangat tidak opresif kepada umat beragama apapun. Nah, kecuali kamu memang tidak biasa menaati hukum, itu beda cerita. Buat orang yang nggak pernah punya logika hukum, maka etika sederhana seperti jangan jualan di trotoar saja akan terasa seperti sebuah bentuk opresi.

Rizieq sepertinya tahu benar hal itu dan mampu memanfaatkanya dengan baik. Dari beberapa media lain, konon katanya Rizieq menyebarkan semangat perlawanan dari arab. Pertanyaannya adalah, ini perlawanan siapa dan pada siapa? FPI dan Islam itu beda. Jangankan dengan Islam, dengan NU dan Muhammadiyah saja beda. Generalisasi seperti ini adalah salah satu bentuk doktrin yang paling mudah dilihat. Sayangnya, mayoritas orang Indonesia melihat tokoh, bukan apa yang dilakukan oleh tokoh itu. Jadi, ya nggak penting Rizieq benar apa salah. Semua pengikutnya akan percaya-percaya saja apa yang dia katakan.

Habib Rizieq sudah membuat FPI mengingkari fitrah-nya sebagai proksi pemerintah.

habib riqieq fpi jokowi wiranto politik islam suharto pemerintah rakyat indonesia
Nggak mau lagi jadi alat pemerintah! Sumber: lh3.googleusercontent.com

Pemerintah itu nggak clueless. Mereka tahu siapa itu FPI. Mereka bahkan (mungkin) ikut mendanai FPI juga. FPI adalah “penjahat bayaran” yang dibuat pemerintah untuk menunjukkan hegemoninya dan menjadi proksi (kepanjangan tangan) pemerintah pada hal-hal yang tak bisa diselesaikan secara konstitusional. Contoh aja gini deh, pernah lihat cowok yang pengen membuat cewek tertarik dengan membayar orang buat pura-pura jadi penjahat lalu si cowok datang untuk menyelamatkan nggak? Nah, kira-kira seperti itu. Rakyat adalah si ceweknya, pemerintah adalah si cowoknya, dan FPI adalah si penjahatnya. Hal seperti ini wajar dilakukan oleh negara untuk mendapatkan kedaulatannya. Untuk mendapatkan pengakuan dari rakyat bahwa pemerintah memang peduli dengan mereka. Padahal aslinya, ya belum tentu.

Namun, ternyata FPI mengingkari “fitrah-nya” sebagai “alat” pemerintah. Dia sudah haqul yakin melawan pemerintah dan menggalang kekuatan untuk melawan pemerintah. Mereka sudah nggak mau lagi jadi tukang jagal peliharaan pemerintah. Inilah yang akhirnya menyebabkan orang Indonesia terdikotomi menjadi dua bagian. Pendukung pemerintah dan pendukung FPI. Karena dua-duanya memang sedang hidup dalam doktrin. Yang satu adalah doktrin dimana pemerintah adalah ayah yang peduli pada anaknya. Rakyat percaya bahwa pemerintah adalah Bang Rhoma yang selalu tepat waktu menyelamatkan Ani. Di sisi lain adalah doktrin surga yang aslinya tak bisa dijanjikan siapapun kecuali Allah. Dan, Rizieq jelas bukan Allah.

Pemerintah butuh oposisi tapi Habib Rizieq belum tentu benar. Jangan jadi orang Indonesia yang main iya-iya aja soal keputusan pemerintah. Namun jangan jadi orang Indonesia yang asal percaya saja sama orang yang bisa teriak takbir. Pembunuh Umar Bin Khatab juga bisa takbir kok. Intinya, be smart citizen. Harus restless dan kritis pada para penggede itu. Biar kita nggak selamanya jadi pion terus.

Komentar