Coba kalian buka beranda Facebook kalian dan perhatikan. Isinya pasti dipenuhi dengan teman-teman kita yang begitu benci dengan pemerintah saat ini. Sepertinya pemerintah setiap hari melakukan suatu hal yang layak untuk dimaki. Atau mungkin meskipun tidak layak dimaki, tetap saja muka pak Jokowi membuat keputusan itu seperti punya tulisan “maki aku”.

Banyak kasus yang baru-baru ini muncul ke permukaan. Mulai dari beras Maknyus hingga patung laksamana perang dari negeri tirai bambu yang berdiri kokoh di sebuah kelenteng di Kediri. Namun, kali ini Casciscus tidak mau membahas soal itu. Kali ini kita akan membahas soal mentalitas anak TK yang kali ini merasuk ke dalam pemikiran teman-teman kita sendiri.

Saking dipenuhi dengan kebencian, orang-orang jadi tidak tahu betapa ironis perkataan mereka.

Kerjaannya maki-maki. Sumber: http://cdn.metrotvnews.com

Salah satu contoh hal yang paling ironis yang bisa kita lihat di beranda Facebook saat ini adalah bahwa banyak sekali pegawai negeri yang mengabdikan hidupnya untuk membenci keputusan pemerintah. Ironi pertama tentu saja adalah soal rasa malu. Banyak pegawai negeri yang mendedikasikan dirinya untuk membenci itu memang tidak malu. Seperti anjing yang menggigit tuannya.

Mulai dari dosen universitas negeri, hingga pegawai honorer di kantor desa, ada saja dari mereka yang jadi makhluk tidak tahu diri. Makan dari uang pemerintah tapi tiap hari kerjanya hanya menebar kebencian pada pemerintah.

Mentalitas kroyokan yang makin kental membuat orang Indonesia menjadi orang pengecut.

Mental kroyokan. Sumber: http://www.aktual.com

Dalam dunia media, mentalitas kroyokan ini memang sangat bisa diandalkan untuk meraih minat baca yang tinggi dari orang-orang kurang kerjaan di luar sana. Kemarin ada kasus dimana seseorang dibakar masa hanya gara-gara dituduh mencuri amplifier masjid. Meskipun orang itu bersalah, tapi masa tetap tidak berhak membakar orang hidup-hidup dan memberikan contoh barbarisme pada anak-anak mereka sejak dini.

Namun, mau bagaimana lagi, hukum di Indonesia memang begitu. Mentalitas kroyokan masih diapresiasi dengan sangat besar. Jika di jalan satu arah kamu adalah satu-satunya orang yang tidak melawan arah, maka kamu dianggap salah meskipun hukum bilang kamu bilang. Mental kroyokan yang memang pantas buat bangsa pengecut macam Indonesia ini.

Mental gampang iri seperti ini anak SD ini yang paling parah. Bahkan orang yang punya gelar doktor menderita penyakit ini.

Irian kayak anak SD. Sumber: http://www.teknikhidup.com

Yang terakhir ini yang paling parah sih. Mentalitas anak SD yang gampang iri. Ingat kasus patung jenderal perang dari Tiongkok akhir-akhir ini? Orang-orang tidak ribut saat berdirinya patung itu tidak dikaitkan dengan isu etnis yang memang dikembangkan dalam pemilu Jakarta kemarin. Selain itu, promosi bodoh soal etnis ini baru bisa berjalan kalau masyarakat punya mental anak SD. Iya mental “Kamu boleh gitu kok aku nggak boleh?”.

Banyak orang menganggap keadilan itu hanya soal kesamaan, padahal tidak. Keadilan itu banyak dan rumit. Otak orang-orang yang mayoritas waktunya dalam sehari dihabiskan di Facebook tidak akan sampai memikirkan tentang kompleksitas filosofi keadilan. Gak nuntut ker!

Artikel ini bukan soal membela siapapun, tapi soal melihat penyakit mental yang saat ini ada di masyarakat. Biasanya sih artikel seperti tidak menarik dan tidak ada yang ingin membaca. Tapi tidak masalah, menulis itu hobiku, tidak ada urusan dengan kamu suka baca atau tidak. 😀

Komentar