Saat ini media sosial memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Mungkin saja, hampir semua orang memiliki paling tidak 1 jenis media sosial aktif. Dalam beberapa konteks, media sosial memang memudahkan kita dan menghibur kita. Namun, akhir-akhir ini ada sebuah fenomena yang bisa dibilang aneh di dunia media sosial.

Entah apa motivasi utama menciptakan media sosial dulu, namun yang jelas saat ini media sosial sudah digunakan untuk berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan di media sosial adalah membenci. Siapa yang dibenci? Artis atau selebriti sih biasanya. Tidak penting sih siapa yang dibenci. Yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa media sosial saat ini digunakan untuk memuaskan rasa lapar akan permusuhan.

Ada banyak akun media sosial yang diciptakan untuk mengumbar kebencian.

media sosial haters artis selebriti indonesia ayu tingting nikita mirzani hoax lambe turah jonru ginting
Followers-nya jutaan. Sumber: http://www.serumpi.comhttp://www.serumpi.com

Yang menyeramkan adalah, saat ini banyak orang yang memberikan wadah bagi orang-orang yang hobinya membenci orang lain ini. Alasannya? Apalagi kalau bukan uang. Semakin banyak orang yang mengikuti akun sosial media kita, semakin banyak pula yang mungkin dihasilkan.

Contoh saja kalau ada artis A melakukan kesalahan. Bikin saja akun yang disediakan untuk berbagi informasi soal si artis A ini. Nah, didalamnya nanti ramai-ramai deh nyinyirin si artis A. Aktivitas yang tidak penting sebenarnya, namun kenyataannya banyak orang yang sangat menyukainya.

Jumlah pengikut mereka mungkin saja bisa lebih banyak dari artis yang dibenci. Ngeri kan?

media sosial haters artis selebriti indonesia ayu tingting nikita mirzani hoax lambe turah jonru ginting
Berdedikasi! Sumber: cdn.brilio.net

Yang lebih mengerikan lagi adalah, pengikut akun-akun yang menspesialisasikan diri di dalam ranah membenci ini memiliki begitu banyak pengikut. Nggak main-main pengikut mereka hingga ratusan ribu. Jumlah pengikut mereka bisa jadi lebih besar dari target yang dibenci. Katakanlah si artis A punya 50 ribu pengikut, akun yang dibuat untuk memberikan wadah pada orang-orang yang ingin memaki-maki si artis ini bisa memiliki pengikut lebih dari 50 ribu, lho.

Aneh kan, ya? Ya memang aneh. Artis-artis seperti Ayu Tingting dan Nikita Mirzani bahkan memiliki akun pembenci yang jumlah pengikutnya mencapai ratusan ribu. Budaya media sosial saat ini memang sedang menuju ke arah yang buruk. Bukannya digunakan untuk menambah koneksi atau menyambung tali silaturahmi tapi malah untuk menebar kebencian kemana-mana.

Kebebasan menyatakan pendapat yang diartikan secara mentah menjadikan aktivitas ini seperti terlindungi.

media sosial haters artis selebriti indonesia ayu tingting nikita mirzani hoax lambe turah jonru ginting
Sampe segitunya bencinya! Sumber: 4.bp.blogspot.com

Jurusan yang salah ini dimulai dari ketidakpahaman orang soal makna kebebasan berpendapat. Berpendapat memang bebas, tapi kebebasan itu sendiri memiliki syarat dan ketentuan berlaku. Nggak hanya diskon saja yang memiliki syarat dan ketentuan, tapi masalah melakukan kebebasan juga. Syarat paling utama dalam menjalankan kebebasan adalah jangan sampai kebebasanmu mengganggu orang lain. Iya bebas bicara, tapi kalau bicaramu menyakiti hati orang lain ya itu tetap tidak bisa dibenarkan.

Jauh sih memang, tapi mungkin orang Indonesia ini masih nggumun dengan kebebasan berbicara. Maklum, dulu orang Indonesia ini memang nggak punya kebebasan berbicara sampai lebih dari tiga dekade. Tapi tetap saja ini nggak bisa dibenarkan dan dianggap enteng. Saat kebencian sudah jadi budaya, maka masyarakat akan berhenti mengalami perkembangan. Gimana mau maju kalau apapun yang dilakukan selalu dibenci?

Mungkin generasi kita dan atas kita ini memang sudah nggak penting. Sudah salah semuanya. Mungkin tugas kita saat ini hanyalah menyelamatkan generasi berikutnya. Karena dengan kondisi seperti saat ini, generasi millenials yang digadang-gadang sebagai salah satu generasi terhebat ini sepertinya sedang berjalan ke arah jurang yang dalam.

Komentar