Semua orang pastinya ingin punya pasangan yang setia. Ya, setia sudah menjadi salah satu tolok ukur yang tak terpisahkan dari penilaian baik dan buruknya seseorang dalam berpasangan. Tapi, apakah manusia mungkin setia? Manusia tidak lahir dengan sikap setia. Dalam sejarahnya, manusia perlu dilatih dengan agama dan moral untuk bisa setia. Tapi, pertanyaannya tetap sama, apakah setia itu benar-benar baik dan berguna bagi orang yang sedang menjalin hubungan?

Kali ini Casciscus ingin membicarakan soal kesetiaan dan apakah itu benar-benar tanpa efek samping. Di dunia ini hampir tak ada yang tak punya efek samping. Namun nampaknya tidak banyak orang yang curiga bahwa kesetiaan juga bisa memberikan keburukan. Kesetiaan, bila tidak diatur dengan baik, justru akan membunuh api romantisme dalam sebuah hubungan.

Setia itu baik, tapi setia adalah pedang bermata dua yang perlu diwaspadai.

setia couple cuddling love
Kesetiaan bisa berakibat buruk!

Tentu saja tidak ada yang bilang bahwa setia itu buruk. Setia itu sangat baik. Seluruh ajaran teologi yang dikenal manusia saat ini menempatkan kesetiaan di dalam salah satu sifat luhur yang wajib dimiliki siapapun. Namun, hal inilah yang akhirnya justru membuat orang tidak mencurigai kesetiaan. Apa benar kesetiaan sebaik itu?

Menurut KBBI, setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya). Ya ,tentu saja kalau dalam artian itu kita tidak akan bisa menemukan celah keburukan setia, namun dalam konteks hubungan antara cowok dan cewek, kesetiaan adalah jalan utama menuju penerimaan berlebihan, pemakluman, dan bias.

Selain menyamankan, setia itu juga meninabobokkan si penerima kesetiaan.

couple beach white hug
Dilarang setia!

Kenapa setia bisa berbahaya? Ya, karena kesetiaan adalah pedang bermata dua. Di satu sisi kesetiaan adalah nilai yang diagung-agungkan oleh masyarakat yang konon katanya sudah balig ini. Namun, di sisi lain, banyak yang tidak menyadari betapa kesetiaan dapat menuntun kita pada perilaku yang justru mampu merusak karakter pasangan kita.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kesetiaan akan membuat seseorang menjadi bias dan memiliki pemakluman yang sangat tinggi. Lalu, dengan sikap seperti itu, apa yang akan terjadi pada pasangan kita? Iya, jadi malas berkembang, tidak mau melakukan yang terbaik karena dia akan merasa bahwa apapun kondisinya kita tak akan pergi.

Dalam beberapa saat setia itu seperti obat tidur. Bikin tenang tapi juga merusak.

Bikin orang nggak punya motivasi!

Kalau kita sudah jadi orang yang terlalu memaklum. Tanpa sadar pasangan kita akan menjadi pribadi yang tak mau bekerja keras, tidak mau melakukan yang terbaik. Tentu saja mereka tidak sengaja melakukannya. Hanya saja, dengan lingkungan dimana kamu begitu banyak memakluminya, karakter semacam itu bisa terbentuk dengan sendirinya.

Akan jadi jauh lebih baik untuk selalu menanamkan doktrin pada pasangan kita bahwa kita ini mungkin saja pergi kalau dia tidak melakukan yang terbaik. Namun, doktrin seperti itu tak mungkin bisa dipraktikkan kalau kita kelewat setia.

Bukannya menyuruh selingkuh, tapi selalu ingat bahwa kita tidak perlu memberatkan siapapun.

Selingkuh bukan solusi!

Tentu saja dalam konteks hubungan yang dibahas di sini bukanlah untuk menyarankan semua orang untuk jadi tukang selingkuh. Tentu saja tidak. Yang dimaksud dengan “tidak boleh setia” di sini adalah bahwa kita harus selalu ingat bahwa tidak ada orang yang perlu diberatkan. Siapapun itu, sesakit apapun itu, jika memang rasa cinta berlebihan kita bisa merusaknya, kita harus meninggalkannya.

Tentu saja tidak semua kesetiaan disalahartikan oleh pasangan kita dan menjadikan mereka makhluk yang berhenti bertumbuh. Namun, kita tidak boleh menolak fakta bahwa kemungkinan itu terjadi sangat besar. Seperti kata Soren Kierkegaard soal Tuhan yang menyatakan bahwa kekhawatiran adalah sumber kecintaan kita pada Tuhan, kamu juga harus menanamkan sedikit rasa khawatir pada pasanganmu bahwa kamu bisa saja pergi dengan mudah jika dia berhenti bertumbuh, berhenti melakukan yang terbaik.

Komentar