Semua orang pastinya ingin sekali memiliki sebuah hubungan yang romantis. Namun, kadang, yang jadi masalah adalah bagaimana orang memandang sebuah romantisme. Ada beberapa orang yang melihat romantisme itu memiliki wujud seperti perhatian, hadiah, penyediaan kebutuhan, dan lain sebagainya. Lantas, apakah benar romantisme hanya bisa dicapai dengan cara itu?

Romantisme saat ini adalah sebuah stereotyping yang dibuat oleh film dan kisah cerita selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, bisa jadi romantisme itu nggak sedramatis itu. Coba kita dengar dari pengalaman banyak orang di sekitar kita, apakah mau dan mampu mereka melakukan romantisme versi seluruh umat itu? Apakah tidak ada romantisme sejati yang secara bentuk terlihat sangat biasa dan lebih manusiawi?

Bunga sebagai simbol romantisme. Apa salah bunga sampai harus jadi sampah gara-gara pemikiran manusia yang muluk-muluk?

sky couple love
Romantisme nggak sesederhana itu!

Jika sebuah kisah cinta dan romantisme disimbolkan dengan bunga, aduh, mudah sekali jatuh cinta disimpulkan. Cinta sendiri perasaan yang hampir tidak ada makanannya. Jadi, hampir tidak mungkin untuk dengan mudah melihat persamaan bahwa cinta adalah sama dengan romantisme, dan romantisme adalah sama dengan bunga. Ini matematika yang terlalu sederhana untuk urusan hati!

Rasa cinta adalah sebuah pertanyaan untuk kelas profesor, jangan menjawabnya dengan matematika kelas anak SMP. Yang ada bukan romantisme sejati yang didapat tapi malah justru kenorakan. Tahu, ‘kan seberapa noraknya anak SMP?

Drama menggambarkan kesempurnaan. Namun apakah hubungan kita sempurna? Tentu saja tidak.

happy couple romantic
Mana ada yang sempurna?

Semua orang mendapatkan gambaran soal keromantisan melalui drama dan kisah yang diulang selama berabad-abad. Sekarang, jadinya tipe keromantisan semua orang terlihat sama. Siapa orang yang nggak menganggap candle light dinner romantis? Tentu saja semua orang menganggap itu romantis. Kenapa? Ya, karena semua orang meminum “racun” yang sama.

Romantisme harusnya adalah sebuah hal yang sangat “custom” bagi masing-masing pasangan. Romantis buat pasangan A bukan berarti akan romantis juga buat pasangan B. Kalau sama, berarti ini ada yang salah soalnya tidak mungkin manusia sesama itu. Kita dengan orangtua kita saja beda, apalagi dengan selera orang lain?

Ini bukan soal bunga dan kata-kata. Ini Soal kentut dan sendawa yang tak lagi dianggap menjijikkan.

romantis couple flying smile happy
Romantisme itu soal penerimaan pasangan!

Lalu, apa dan bagaimana romantisme sejati itu. Tentu saja semua orang harus memiliki jawaban yang berbeda. Namun jika ingin mendapatkan satu garis lurus dari semua jawaban, mungkin jawabannya adalah di mana kita bisa menjadi diri sendiri. Nggak “tiru-tiru” film atau kata orang. Saat sebuah hubungan tidak menggerus pribadi masing-masing dan menjadikan orang-orang dalam hubungan itu sebuah mesin pemuas dahaga kebahagiaan pasangannya.

Romantisme adalah saat seorang perempuan yang diajari tata krama dengan “ndekik” sudah tidak malu lagi sendawa di depan seorang laki-laki. Romantisme adalah seorang laki-laki yang mengampu mayoritas tanggung jawab hubungan, tanpa rasa malu dan canggung, kentut dengan keras di depan perempuan yang malah justru menertawakannya.

Tentu saja semua orang punya kisah romantisnya masing-masing. Dan nggak salah juga saat seseorang menganggap bunga dan makan malam berlilin adalah sebuah perwujudan romantisme. Hanya saja, apa sekadar bunga dan makan malam itu nggak terlalu klise dan sederhana untuk menggambarkan sebuah perasaan yang sangat rumit ini?

Komentar